Rabu, 11 Januari 2017

Kemana Pemerintah Berpihak?

Saat berpolitik, tentu seseorang akan menjual janji, ya, janji2 politik, yang sangat menghipnotis rakyat hingga ke setiap jengkal pelosok negeri.
Beberapa dari kita tentu masih ingat janji2 pilpres sang presiden terpilih, janji2 yang cukup berani, benar2 menghipnotis, tidak hanya satu, banyakkk!


Namun saya akan soroti salah satu saja, presiden kita pernah berjanji untuk mempersulit masuknya investor asing. Sangat bagus memang, karena akan memberikan banyak kesempatan kepada rakyat untuk bersaing investasi dikancah nasional.

Selain memberi kesempatan kepada pemodal lokal, manfaat lain juga pada pembiayaan infrastruktur dalam negeri yang bisa diperoleh dari negeri sendiri, bukan dari asing.

Namun sayang, janji hanyalah janji. Tresiden kita agaknya bisa dikatakan kurang menepati janji. Bukannya menepati janji mempersulit investor asing, yang ada justru negara kita diobral ke asing.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat kenaikan investasi asing signifikan yang bersumber pada Penanaman Modal Asing (PMA), yakni pada Januari 2015 - Juni 2016 senilai 453,8 triliun rupiah, meningkat 32,5% jika dibandingkan 3 semester sebelumnya yakni Juni 2013 - Desember 2014 senilai 342,4 triliun rupiah.

Tak hanya itu, dampak dari masuknya investor asing juga dikaitkan dengan masuknya Tenaga Kerja Asing (TKA) yang membanjiri negeri. Dimulai dari isu masuknya 10 juta TKA Cina hingga buruh Cina yang tidak memiliki perizinan serta kualifikasi yang memadai.
Dipertengahan 2015 pada sebuah pembangunan pabrik semen di Bayah, Banten, banyak terdapat TKA asal Cina. Kemudian Agustus 2015 pada peresmian PLTU Celukan Bawang di Buleleng, Bali, juga dijumpai hal serupa.


Saat klarifikasi, presiden menyebut bahwa 10 juta itu angka yang diharapkan untuk masuknya wisatawan asal Cina. Namun beliau juga bilang kalau TKA Cina 'cuma' 21 ribu. Belum lagi yang bermasalah dengan perizinan dan sebagainya. Belum lagi kita masih banyak melihat wajah penggangguran yang melukai dunia ketenagakerjaan negeri ini.

Memang benar, tenaga kerja asal negeri tirai bambu itu menurut data Kementrian Ketenagakerjaan per November 2016 mencapai 21.217 orang. meningkat 11% terhitung dari akhir 2015 yang mencapai 17.515 orang.
Jika kita telusuri, masuknya TKA Cina tersebut sejalan dengan masuknya investasi yang memang dari Cina. BKPM mencatat jumlah proyek investasi terbanyak dari Cina, yaitu 501 proyek pada 2014, meningkat 100% menjadi 1052 proyek pada 2015.
Yaa memang benar kalau 2 tahun terakhir ini presiden cukup intens mengundang investor, terutama Cina.

Dari sini bisa kita sedikit intip kepada siapa pemerintah berpihak. Kesimpulannya saya serahkan pada teman2 semua yang telah berkenan untuk membaca.



*cuma tulisan, tidak ada unsur menyudutkan pihak manapun*

sumber :
http://m.katadata.co.id/berita/2016/12/28/isu-serbuan-10-juta-pekerja-cina-ini-datanya
http://mediaindonesia.com/news/read/73969/dua-tahun-jokowi-jk-investasi-asing-tumbuh-32-5/2016-10-25
http://m.rimanews.com/ekonomi/investasi/read/20161123/308961/Investor-Lokal-Indonesia-Baru-Mencapai-400-Ribu-Orang

*artikel ini pernah dipost di timeline Line oleh penulis pada 11/1/2017*

Senin, 09 Januari 2017

Respon Regulasi Baru Liga Super Indonesia 2017

Sepakbola merupakan olahraga yang banyak digemari masyarakat di seluruh dunia. Bahkan di Eropa dan Amerika Latin, sepakbola bagaikan agama.

Tak mau kalah, di Indonesia sepakbola juga cukup digemari. Mulai dari anak-anak hingga lansia, semua suka sepakbola, semua punya klub kesayangan masing-masing baik lokal maupun mancanegara. Atmosfir liga sepakbola di Indonesia pun banyak digemari talenta-talenta asing. Dengan penuh ambisi banyak klub sepakbola di negara kita ini rela menghabiskan dananya untuk membeli dan menggaji pemain asing. Dilansir dari detikSport, dua pemain asing dengan gaji tertinggi saat gelaran Torabika Soccer Championship 2016 kemarin adalah Cristian Gonzalez dari klub Arema Cronus, dan Juan Belencoso dari Persib Bandung.

Di awal 2017 ini, PSSI selaku federasi sepakbola tertinggi di negeri ini membuat draft regulasi baru terkait Indonesia Super League 2017 yang akan datang. Dalam Kongres PSSI (8/1), ada beberapa draft regulasi yang direncanakan, diantaranya soal kuota pemain asing, PSSI memberlakukan aturan 2+1, artinya ada maksimal 2 pemain asing dari negara manapun, dan tambahan 1 pemain asing dari benua Asia.

Tak hanya itu, ada juga regulasi pembatasan usia pemain. Setiap klub tidak boleh memiliki lebih dari 2 pemain berusia diatas 35 tahun. Juga diwajibkan memiliki minimal 5 pemain u23 yang 3 diantaranya wajib dimainkan setiap pertandingan.

Sosialisasi draft regulasi tersebut disampaikan kepada 18 klub peserta Indonesia Super League 2017 setelah Kongres PSSI di Hotel Aryaduta, Bandung, Minggu (8/1) (FourFourTwo).
Respon positif maupun negatif pun bermunculan di kalangan pecinta sepakbola nusantara. Salah satunya dari rekan penulis yang penulis hubungi Selasa (10/1), Dwi Arga (21), mahasiswa Undip jurusan Teknik Perkapalan sekaligus penggemar klub Persipura, "Mempertahankan format kompetisi 1 wilayah 18 tim sudah bagus, untuk kuota pemain asing agaknya lebih baik disamakan dgn kuota AFC agar klub-klub Indonesia saat bertanding di AFC Cup / ACL lebih bisa bersaing dgn klub dr negara lain, selain itu pertimbangan klub yang sudah mengontrak pemain asing lebih dari kuota rasanya nggak enak kalau harus memutus kontrak. Kalau pemain u23 di skuad sih nggak ada salahnya kalau untuk tujuan pembinaan, cuma untuk klub harus memiliki tim u19 & u21, lebih baik agar lebih efisien cukup tim u19 & u16 saja karena usia 20 tahun saja sudah saatnya pemain bersaing ditingkat senior" tuturnya. Sebagai penggemar klub yang berlaga di ISL, Arga cukup mengikuti perkembangan persepakbolaan di Indonesia. Ia menyayangkan bahwa salah satu draf regulasi dari PSSI yang mewajibkan membangun skuad muda u19 dan u21 dinilai tidak efisien, pasalnya pemain sepakbola berusia 20 tahun sudah dianggap pantas untuk masuk tim senior.
Memang di liga-liga besar seperti Serie-A Italia, skuad muda di klubnya itu u17 dan u19, sehingga pemain berusia 20 tahun sudah disiapkan untuk bermain di level senior.
"Batas maksimal usia pemain saya tidak setuju, sama saja dengan menghambat dan menghentikan karir pemain yang menjadikan sepakbola sebagai mata pencaharian utamanya" tambahnya. Memang pembatasan usia maksimal 2 pemain dengan usia diatas 35 tahun terlihat seperti menghentikan karir pemain-pemain senior, masalahnya banyak klub di Indonesia yang masih menggunakan jasa pemain 'veteran' di skuad utamanya.