Rabu, 10 Mei 2017

Tim Kampusku di Liga 3

Sore itu sepulang kuliah, cuaca khas Jogja yang panas, harus saya tembus untuk pulang ke kontrakan. Sudah tidak ada kegiatan sore itu. Saya putuskan menunggu laga Persela kontra Persija live di TvOne. Memang saya bukan supporter kedua tim, tapi dibanding tim lain di Liga 1 memang Persija yang menarik untuk saya tonton. Salah satu alasannya adalah BP20.

Oke laga dimulai. Haus gol men Persija! Sudah dua kali kalah beruntun, tim asuhan coach Stefano Cugurra itu justru kebobolan di menit 31 oleh sundulan keras striker Persela, Ivan Carlos. "Calon kalah lagi nih persija", batin saya berbisik. Sekitar menit 40 saya memutuskan berhenti menonton tv. "Clep", televisi mati.

Bukan tanpa alasan saya berhenti menonton laga itu, bukan karena bosan juga Persija masih tertinggal. Saya ingat hari ini kampus saya bertanding di Liga 3 zona Yogyakarta. Tidak banyak mahasiswa seperti saya yang kampusnya berlaga di Liga 3 Indonesia, liga sepakbola terbawah di Indonesia yang dikelola Badan Liga Amatir Indonesia (wikipedia.org).

Tercatat ada 4 tim sepakbola berbasis universitas di Liga 3 zona Yogyakarta. Diantaranya ada UAD FC (UAD), FC UNY (UNY), GAMA FC (UGM), dan PS HW (UMY). Menurut saya, fenomena ini patut dibanggakan. Karena pasti keempat tim tersebut tidak hanya menjadi peserta, tapi pasti punya target yang tinggi. Hal ini akan memberikan bumbu yang lebih pada atmosfir kompetisinya.

Oh iya saya pun pergi ke Lapangan Gamelan, Berbah, untuk menyaksikan UAD FC vs Tunas Jogja. Mungkin sampai disana kedua tim sudah mulai bertanding. Tapi, kenyataan disana jauh diluar dugaan. Bukannya ramai penonton, yang ada hanya sapi yang sedang dilepas dilapangan dan beberapa anak-anak yang bermain disekitarnya. "Waduh lha terus ini UAD main dimana", dalam hati saya bingung. Saya memang mendapat info tempat bergulirnya laga ini dari akun twitter @SuporterFC, tapi mungkin mas admin keliru memberikan infonya, hehe tak apa.

Tidak menyerah, saya mencari tahu dari teman-teman UAD FC. Sayangnya mereka tak ada yang membalas. Lagi-lagi saya ceroboh kalau mereka itu pemain yang sudah pasti berada dilapangan atau dibangku cadangan, tidak mungkin memegang hp, hahaha.

Sebentar saja info lapangan saya dapat. Lapangan Potorono. Sekitar 5 menit dari Lapangan Gamelan. Cusss saya meluncur dengan motor Supra tempur saya.
Sampai disana, peluit babak kedua baru dibunyikan. Semua gawang masih perawan. Belum ada gol tercipta. Oranye, jersey kebanggaan UAD, dan biru, jersey Tunas Jogja. Bola mondar-mandir kesana-kemari. Teriakkan pemain pun bisa terdengar sampai pinggir lapangan.

Gol yang dinanti penonton pun pecah juga. Miss komunikasi antara kiper dan bek UAD FC membuahkan gol untuk Tunas Jaya, 0-1 Dahlan Muda, julukan punggawa UAD tertinggal. Tampak wajah lesu dan putus asa di beberapa punggawa UAD FC. Permainan menjadi agak buyar. Tambahan waktu 3 menit.

Dengan sisa semangat dan stamina yang sudah diujung tanduk, UAD FC mencetak gol penyeimbang di menit tua itu. 1-1 papan skor berubah. Sorak-sorai penonton tumpah seketika. Saya tak mau kalah ikut berdiri dan memberikan applause pada mereka. Meski setelah gol itu sempat diwarnai kartu kuning yang diberikan langsung kepada sang pencetak gol, Fajar, sepertinya tak menimbulkan respon berarti pada semua yang merayakan golnya. Fajar yang masih telanjang dada nyengir tertawa dan menyalami pak wasit yang telah menghukumnya. Pemandangan yang langka. Gelak tawa tak terelakkan dari sebagian penonton disana, tak terkecuali saya. Peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan pun dibunyikan.

Kurang memuaskan memang pertandingan itu, karena saya yang datang terlambat, hehe. UAD FC dan Tunas Jaya berbagi poin. Namun perjalanan masih panjang. Masih banyak poin yang siap untuk dikantongi. Asal tim mampu bermain dengan total, berjuang sepenuhnya, tentunya dengan menjujung tinggi sportifitas, kemenangan sudah pasti akan lebih mudah untuk diraih.

Bagi saya dan rekan-rekan dikampus, UAD FC merupakan salah satu hal yang bisa dibanggakan. Inilah mungkin yang bakal menjadi semangat punggawa UAD FC berlaga di Liga 3. Kebanggaan merupakan dukungan spiritual bagi para pemain. Tak terkecuali bagi staf pelatih dan jajaran official lainnya.

Semoga UAD FC mampu berbicara banyak di pertandingan-pertandingan yang dilakoninya. Seperti tahun kemarin, UAD FC mampu menembus final Linus 2016 melawan GAMA FC, namun kalah 2-1.
Jayalah sepakbolaku!

Amin Hartoni - @albrightonne

Kamis, 04 Mei 2017

Bangkitlah Sepakbolaku!

Sudah lama menanti dahaga bergulirnya liga. Mungkin ini yang banyak menggrundhel di hati masyarakat pecinta sepakbola nusantara. Setelah lama dibekukan FIFA, cerita sepakbola Indonesia pun kembali mulai. Bermodal persiapan matang dan segenap regulasi yang dibumbui isu sedikit merugikan, tim-tim dari seluruh nusantara antusias dengan bergulirnya liga.

Saya yang dari kecil hidup di kota dingin Wonosobo, Jawa Tengah, belum pernah merasakan kebersamaan mendukung tim kota kebanggaan. Ya memang tim sepakbola Wonosobo tidak semaju di kabupaten atau kota lain. Sudah lama saya ingin menonton tim lokal dimana saya tinggal, Yogyakarta. Ada tiga tim yang cukup dikenal masyarakat, Psim Yogyakarta, Persiba Bantul dan PSS Sleman. Tiga tim besar yang ada di wilayah Yogyakarta.
Kali ini saya akan bercerita sedikit pengalaman saya menonton laga Psim vs Persinga Ngawi. Sudah lama saya penasaran dengan atmosfir liga. Biasanya saya cuma menonton di layar televisi sih. Itu saja sudah cukup puas, dengan pertandingan yang cukup menghibur, penonton yang menggelora serta intrik sepakbola khas Indonesia yang terjadi dilapangan, membuat rasa penasaran saya untuk menonton langsung pun memuncak.

Sehari sebelum laga Psim, saya dihubungi teman kampus saya, Ilham Wiguna, dia mengajak menonton di Stadion Sultan Agung, laga Psim vs Persinga Ngawi. "Oke siap", jawab saya ketika diajak, tanpa pikir panjang haha.

Kamis 4 Mei, sekitar pukul 12:00, Ilham seperti sudah tidak sabar untuk meluncur ke stadion. Dia berseragam Psim, sementara saya yang bukan pendukung kedua tim, memilih memakai jersey timnas Indonesa hehe.

Oke kami pun sampai di stadion, dan WOW, sambutan hangat supporter Psim sepanjang jalan, dan juga di area stadion, benar-benar membius saya. Ribuan supporter tumpah ruah. Biru-biru. Warna kebanggaan Psim. Segera kami membeli tiket, tribun ekonomi utara seharga Rp 20.000 (maklum laa kami anak kos heheh). Kami berdua duduk sejenak di dekat loket tiket. Saya sempat ngobrol dengan Polisi yang berjaga disana. "Tidak lebih dari 200 kok mas penjagaannya, ini laga damai, santai saja pasti aman", ujar Pak Polisi yang berpakaian lengkap anti huru-hara itu.

Semakin yakin dengan 'keamanan' di laga ini, kami pun masuk ke tribun. Maklum, belum lama ini sempat ada insiden tawuran antar pendukung Psim. Jadi kami sempat ketar-ketir saat masuk stadion.

Laga Psim vs Persinga Ngawi pun dimulai. Gemuruh stadion yang penuh oleh pendukung Psim membuat pemain Psim semangat memainkan si kulit bundar. Kami semakin antusias menonton laga itu. Dan gol yang ditunggu pun datang dari Psim. Di menit 29, Engkus Kuswaha menyambut umpan matang dari tendangan bebas sisi kiri gawang, dengan kepalanya dan GOL, begitu yang tertera di layar papan skor, Psim unggul 1-0 atas Persinga Ngawi. Hingga turun minum, skor tetap 1-0.
Meski istirahat babak pertama, supporter Psim tetap menggema menyuarakan chant khasnya. Gemuruh seluruh stadion membuat siapapun di sana bergetar hatinya. Ternyata seperti ini sepakbola kita. Benar-benar menyatukan semua lapisan masyarakat, tua muda, pria wanita, petani hingga TNI Polri, semua yang ada di stadion bisa damai, tenang dan aman terkendali.

Tidak lama, babak kedua dimulai. Sempat berhenti sejenak karena ada kertas-kertas gulungan yang dilempar ke arah lapangan, hingga mungkin mengganggu kedua tim dalam berlaga dilapangan. Yang menarik, beberapa pemain kedua tim saling membatu menyingkirkan tisu gulungan tadi keluar lapangan, luar biasa rasa kebersamaan antara mereka.

Alih-alih menyamakan keadaan, Persinga justru kembali kebolan. Gol heading Krisna Adi di menit 72 membuat Psim unggul 2-0 hingga babak kedua usai. Tiga poin untuk tim kebanggaan wong Jogja itu.

90 menit yang luar biasa, saya puas, terhibur dengan apa yang saya tonton. Permainan yang cukup menarik dibandingkan dengan tim lain yang kemarin saya tonton, serta atmosfir yang tersaji di stadion, membuat saya tidak ragu memberikan standing applause kepada Psim. Well done Psim. Ternyata kalian keren juga. Itu yang saya katakan dalam hati. Benar-benar atmosfir sepakbola yang jarang saya temukan, selain saat laga timnas.

Bagi saya, banyak hal menarik selama pertandingan. Kekompakan supporter Psim meneriakkan chant salah satunya, tentu dengan bumbu sindiran kepada tim-tim rival utamanya. Itu biasa terjadi di Indonesia. Buat supporter netral seperti saya, gaya supporter Psim pasti membuat kangen ingin kembali menonton langsung di stadion. Suasana hangat kebersamaan juga sangat terasa. Psim sudah menjadikan mereka semua (supporter) bersatu layaknya keluarga.
Inilah yang diharapkan seluruh pecinta sepakbola. Sepakbola yang menyatukan, yang meleburkan seluruh masyarakat yang mendukungnya. Salut. Semoga tetap indah dan damai seperti ini selamanya.

Saya berharap sepakbola Indonesia bangkit, maju, berkembang dan berkualitas, bukan hanya olahraga sepakbola yang menyehatkan, namun juga dapat memberikan tontonan yang berkualitas pada masyarakat.
Jayalah sepakbola Indonesia!
Amin Hartoni @albrightonne