Sore itu sepulang kuliah, cuaca khas Jogja yang panas, harus saya tembus untuk pulang ke kontrakan. Sudah tidak ada kegiatan sore itu. Saya putuskan menunggu laga Persela kontra Persija live di TvOne. Memang saya bukan supporter kedua tim, tapi dibanding tim lain di Liga 1 memang Persija yang menarik untuk saya tonton. Salah satu alasannya adalah BP20.
Oke laga dimulai. Haus gol men Persija! Sudah dua kali kalah beruntun, tim asuhan coach Stefano Cugurra itu justru kebobolan di menit 31 oleh sundulan keras striker Persela, Ivan Carlos. "Calon kalah lagi nih persija", batin saya berbisik. Sekitar menit 40 saya memutuskan berhenti menonton tv. "Clep", televisi mati.
Bukan tanpa alasan saya berhenti menonton laga itu, bukan karena bosan juga Persija masih tertinggal. Saya ingat hari ini kampus saya bertanding di Liga 3 zona Yogyakarta. Tidak banyak mahasiswa seperti saya yang kampusnya berlaga di Liga 3 Indonesia, liga sepakbola terbawah di Indonesia yang dikelola Badan Liga Amatir Indonesia (wikipedia.org).
Tercatat ada 4 tim sepakbola berbasis universitas di Liga 3 zona Yogyakarta. Diantaranya ada UAD FC (UAD), FC UNY (UNY), GAMA FC (UGM), dan PS HW (UMY). Menurut saya, fenomena ini patut dibanggakan. Karena pasti keempat tim tersebut tidak hanya menjadi peserta, tapi pasti punya target yang tinggi. Hal ini akan memberikan bumbu yang lebih pada atmosfir kompetisinya.
Oh iya saya pun pergi ke Lapangan Gamelan, Berbah, untuk menyaksikan UAD FC vs Tunas Jogja. Mungkin sampai disana kedua tim sudah mulai bertanding. Tapi, kenyataan disana jauh diluar dugaan. Bukannya ramai penonton, yang ada hanya sapi yang sedang dilepas dilapangan dan beberapa anak-anak yang bermain disekitarnya. "Waduh lha terus ini UAD main dimana", dalam hati saya bingung. Saya memang mendapat info tempat bergulirnya laga ini dari akun twitter @SuporterFC, tapi mungkin mas admin keliru memberikan infonya, hehe tak apa.
Tidak menyerah, saya mencari tahu dari teman-teman UAD FC. Sayangnya mereka tak ada yang membalas. Lagi-lagi saya ceroboh kalau mereka itu pemain yang sudah pasti berada dilapangan atau dibangku cadangan, tidak mungkin memegang hp, hahaha.
Sebentar saja info lapangan saya dapat. Lapangan Potorono. Sekitar 5 menit dari Lapangan Gamelan. Cusss saya meluncur dengan motor Supra tempur saya.
Sampai disana, peluit babak kedua baru dibunyikan. Semua gawang masih perawan. Belum ada gol tercipta. Oranye, jersey kebanggaan UAD, dan biru, jersey Tunas Jogja. Bola mondar-mandir kesana-kemari. Teriakkan pemain pun bisa terdengar sampai pinggir lapangan.
Gol yang dinanti penonton pun pecah juga. Miss komunikasi antara kiper dan bek UAD FC membuahkan gol untuk Tunas Jaya, 0-1 Dahlan Muda, julukan punggawa UAD tertinggal. Tampak wajah lesu dan putus asa di beberapa punggawa UAD FC. Permainan menjadi agak buyar. Tambahan waktu 3 menit.
Dengan sisa semangat dan stamina yang sudah diujung tanduk, UAD FC mencetak gol penyeimbang di menit tua itu. 1-1 papan skor berubah. Sorak-sorai penonton tumpah seketika. Saya tak mau kalah ikut berdiri dan memberikan applause pada mereka. Meski setelah gol itu sempat diwarnai kartu kuning yang diberikan langsung kepada sang pencetak gol, Fajar, sepertinya tak menimbulkan respon berarti pada semua yang merayakan golnya. Fajar yang masih telanjang dada nyengir tertawa dan menyalami pak wasit yang telah menghukumnya. Pemandangan yang langka. Gelak tawa tak terelakkan dari sebagian penonton disana, tak terkecuali saya. Peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan pun dibunyikan.
Kurang memuaskan memang pertandingan itu, karena saya yang datang terlambat, hehe. UAD FC dan Tunas Jaya berbagi poin. Namun perjalanan masih panjang. Masih banyak poin yang siap untuk dikantongi. Asal tim mampu bermain dengan total, berjuang sepenuhnya, tentunya dengan menjujung tinggi sportifitas, kemenangan sudah pasti akan lebih mudah untuk diraih.
Bagi saya dan rekan-rekan dikampus, UAD FC merupakan salah satu hal yang bisa dibanggakan. Inilah mungkin yang bakal menjadi semangat punggawa UAD FC berlaga di Liga 3. Kebanggaan merupakan dukungan spiritual bagi para pemain. Tak terkecuali bagi staf pelatih dan jajaran official lainnya.
Semoga UAD FC mampu berbicara banyak di pertandingan-pertandingan yang dilakoninya. Seperti tahun kemarin, UAD FC mampu menembus final Linus 2016 melawan GAMA FC, namun kalah 2-1.
Jayalah sepakbolaku!
Amin Hartoni - @albrightonne