Indonesia pernah mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebenarnya bisa, tapi jika kita melihat infrastruktur yang ada itu belum cukup mumpuni. Di kota-kota besar sudah berdiri megah stadion dengan kapasitas diatas 25.000 penonton. Akan tetapi, membicarakan Piala Dunia dan stadion saja masih belum cukup. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, mulai dari akses, infrastruktur pendukung di lingkungan stadion, hingga penginapan atau hotel dan masih banyak lagi tentunya. Kemudian bagaimana dengan Piala Dunia 2022 yang diajukan Indonesia tadi? Cukup dijawab dalam hati saja.
Membicarakan sepakbola, animo masyarakat Indonesia memang menggairahkan. Sepakbola bisa mendatangkan puluhan ribu massa hanya dalam waktu sebentar saja. Dimana lagi puluhan ribu orang berfikir untuk bergerak dan bersatu dalam satu garis suporter? Hanya di sepakbola!
Jika kita melihat gairah sepakbola di Jawa Tengah, peta persebaran tim sepakbola cukup kompetitif. Mulai dari PSCS Cilacap, Persibangga Purbalingga, Persibat Batang, PSIS Semarang, PPSM Magelang, Persis Solo dan masih banyak lagi. Masing-masing wilayah kabupaten memiliki basis suporter loyal yang siap mengawal tim kebanggaannya dimanapun berlaga. Namun, bagaimana dengan Kabupaten Wonosobo? Wonosobo memang memiliki klub sepakbola dibawah kepemilikan Pemkab Wonosobo bernama PSIW Wonosobo. Berstadion di Stadion Kalianget dengan kapasitas 1000 orang, PSIW Wonosobo berlaga di Liga Nusantara (sekarang Liga 3). Itu versi wikipedia. Kalau anda berkenan melihat langsung di Wonosobo, tentu akan berbeda. Tak ada aktivitas sepakbola PSIW Wonosobo untuk saat ini. Terbukti saat kita lihat melalui akun Instagram @psiwofficial bahwa terakhir PSIW berlaga adalah di Piala Soeratin U-17 tahun 2017, dimana PSIW junior mengakhiri kompetisi tanpa kemenangan. Akun Instagram resmi PSIW tersebut sampai tulisan ini dibuat belum ada postingan lagi, terakhir adalah postingan tanggal 18 April 2017 mengenai Match Day ke-7 antara PSIW junior vs Persibas Banyumas junior di "Stadion" Kali Anget.
Stadion? Ekspektasi kita terhadap sebuah stadion tentu besar. Besar bangunannya, besar kapasitasnya, dan sebagainya. Namun Stadion Kali Anget yang dimaksud tadi diatas belum mencapai ekspektasi kita. Di Stadion Kali Anget, Lapangan Kali Anget tepatnya, hanya terdapat lintasan atletik, tanpa tribun, dan masih jauh untuk dikatakan sebuah stadion. Disamping itu, inilah lapangan satu-satunya harapan warga Wonosobo untuk menyelenggarakan kompetisi sepakbola, khususnya PSIW.
Berada tidak jauh dari pusat kota Wonosobo, Lapangan Kali Anget sering digunakan untuk olahraga masyarakat Wonosobo, mulai dari lari maupun sepakbola. Sebelum masuk Lapangan Kali Anget kita juga bisa menikmati olahraga air, karena terdapat kolam renang yang cukup besar dan di sebelahnya ada kolam air panas. Tetapi kita tidak akan membahas itu. Pembangunan stadion akhir-akhir ini mulai diharapkan masyarakat Wonosobo. Banyak beredar foto spanduk bertuliskan "Wonosobo Butuh Stadion" di media sosial. Ini memang bentuk kekecewaan masyarakat sepakbola khususnya di Wonosobo karena ketidakadanya stadion yang mumpuni di kota dingin ini.
Stadion sepakbola memang penting, disamping dapat menyelenggarakan berbagai event mulai dari sepakbola hingga konser dan pengajian, stadion dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Tentu akan ada banyak penjual atribut klub sepakbola disekitar stadion, pedagang makanan dan minuman, petugas parkir, dan jangan heran lagi kalau ada calo tiket. Disamping itu, stadion juga dapat menjadi arena pemersatu masyarakat, karena hakikatnya didalam pertandingan sepakbola di sebuah stadion, hanya akan ada pendukung tim tamu dan tim tuan rumah. Semua bersaudara. Tuan rumah akan dengan senang hati menyambut tamunya. Sang tamu pasti akan menghormati sikap tuan rumahnya. Namun di Indonesia, hal yang mulia ini masih terbilang "mahal".
Kadang, berbicara mengenai sepakbola tak jauh dari kekerasan. Sudah banyak terjadi di Indonesia. Yang terbaru adalah ketika Arema FC bertandang ke kandang Madura United (10/9) dimana bus dari tim berjuluk Singo Edan itu dilempari batu oleh oknum suporter Madura United yang sebagian memang pendukung Bonekmania, rival bebuyutan Aremania. Kemudian bagaimana dengan kekerasan di Wonosobo? Apa sudah cukup kondusif? Kabupaten Wonosobo terkenal akan wisatanya, kotanya yang sejuk memang menarik banyak wisatawan untuk berkunjung. Wonosobo juga terkenal akan warganya yang ramah. Trend kekerasan pun mulai menurun di kota Carica ini.
Anggaran pembangunan stadion mungkin menjadi hal yang sulit dilakukan pemerintah Kabupaten Wonosobo. Meski sudah banyak aspirasi yang dilakukan melalui berbagai cara untuk segera membangun stadion, Pemkab Wonosobo sepertinya belum ada tanggapan yang serius. Atau mungkin pihak berwenang di Wonosobo berpikiran bahwa pembangunan stadion sepakbola belum menjadi suatu urgensi yang akan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat Wonosobo. Kita hanya bisa berharap dan berdoa yang terbaik untuk kemajuan Wonosobo, khususnya bidang sepakbola.
(Mengenai kelanjutan eksistensi Laskar Kolodete ini, penulis sedang bertanya kepada pihak PSIW melalui email psiwofficial@gmail.com pada 13 September 2017).
Sumber berita:
http://m.bola.com/indonesia/read/3089545/pulang-dari-markas-madura-united-bus-arema-dilempari-batu
http://tribratanewswonosobo.com/wonosobo-semakin-aman-angka-kejahatan-terus-mengalami-trend-penurunan-dalam-5-tahun-terakhir/
https://id.wikipedia.org/wiki/PSIW_Wonosobo
https://id.wikipedia.org/wiki/PSIW_Wonosobo
Terinspirasi dari buku Antony Sutton, Sepakbola, The Indonesian Way of Life.



