Rabu, 08 November 2017

Drama di Akhir Liga

Sejak peluit pertama kick-off Liga 1 pada 17 April 2017, seluruh kontestan liga langsung tancap gas. Persipura yang keluar sebagai juara Torabika Soccer Championship A 2016 lalu, tentu tak ingin melewatkan mahkota Liga 1 yang sudah cukup lama dinanti masyarakat sepakbola Indonesia. Namun sayang, hingga pekan 33 Persipura hanya menang 17 kali, imbang 8 kali, dan kalah 8 kali. Tim Mutiara Hitam pun harus puas menghuni posisi 5 klasemen Liga 1 sementara.

Tak ada yang tak mungkin di Indonesia. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, kalau kata grup band legendaris Koes Plus. Masyarakat yang masih percaya akan kekuatan magis, percaya akan tahayul, dan masih banyak lagi, itulah yang mewarnai Indonesia. Tak terkecuali di sepakbola. Sejak hal-hal ghaib dalam tubuh PSSI mulai tumbuh, banyak keanehan terjadi. Mulai dari sepakbola gajah, pengaturan skor, intervensi wasit, hingga pemilihan ketua umum yang sarat politik. Namun sekarang mari kita lupakan cacat yang melukai sepakbola kita itu. Saatnya menatap masa depan sepakbola yang cerah. Disambut dengan juaranya Evan Dimas dkk di AFF U19 tahun 2013, kita semakin optimis bahwa sepakbola Indonesia di masa mendatang akan lebih gemilang.

Liga Baru, Semangat Baru. Memang Indonesia ini negeri slogan. Itulah slogan baru dari Gojek Traveloka Liga 1 yang semula bernama ISL (Indonesia Super League). Tak hanya sekedar slogan, Liga Baru Semangat Baru diharapkan mampu diilhami seluruh stakeholder klub di Liga 1. Harapan dan impian pun membumbung tinggi. Semua ingin juarai kompetisi. Regulasi pun dibuat dengan maksud meningkatkan kualitas. Hanya saja, di negara ajaib ini, regulasi bukanlah regulasi sebagaimana mestinya. Ia bisa berubah di tengah bergulirnya kompetisi. Sakti! Entah siapa dukunnya, perubahan regulasi saat liga telah bergulir cukup mencolok mata pecinta sepakbola. Tengok saja ketika PSSI menghapus regulasi penggunaan pemain u23 hingga akhir kompetisi. Menurut Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, kesempatan pemain muda di kompetisi Liga 1 2017 masih terbuka walau regulasi pemain U-23 dihapuskan sementara. Lagi-lagi kita hanya bisa menerima hal yang magis ini. Ada klub yang dirugikan, ada pula yang diuntungkan. Klub dengan rata-rata pemain matang dan cukup memberi perubahan pada permainan tentu akan memainkan pemain tersebut secara maksimal. Prestasi klub kemudian akan menjadi output dari kebijakan klub ini. Inilah yang menjadi kunci empat klub teratas Liga 1 musim ini.

Gojek Traveloga Liga 1 2017 ini memang penuh kejutan. Mulai dari tim-tim yang 'mengejutkan', regulasi yang absurd, hingga juara kompetisi yang secara mengejutkan, Bhayangkara FC! Memang Bhayangkara FC di awal musim tidak terlalu di unggulkan. Bahkan hanya menargetkan peringkat 10 besar. Namun komposisi pemain yang berkualitas, serta permainan yang solid menjadi kunci setiap kemenangan Bhayangkara FC. Hingga menyisakan 1 laga, BFC telah mengantongi 68 poin dan berada di puncak klasemen, hanya selisih 3 poin dari peringkat kedua yakni Bali United FC. Ada yang unik dari poin Bhayangkara FC ini. PSSI memutuskan untuk membatalkan hasil pertandingan Bhayangkara FC vs Mitra Kukar dengan hasil draw 1-1 pada pekan ke 32, Jumat, 3 November 2017. Hasil pertandingan itu dibatalkan akibat Mitra Kukar memainkan Mohamed Sissoko yang pada laga sebelumnya ia telah menerima kartu merah. Mantan pemain Liverpool dan Juventus itu juga mendapat sanksi larangan bermain di dua laga, yakni termasuk Bhayangkara dan Persiba Balikpapan pada 11 November mendatang. Namun di laga vs Bhayangkara, nama Sissoko tak masuk dalam Nota Larangan Bertanding (NLB) yang ditertibkan operator.

Dibatalkannya laga antara BFC dengan tim Naga Mekes oleh Komdis PSSI memberikan kemenangan WO (3-0) kepada BFC. Artinya Bhayangkara FC secara otomatis mendapatkan ganjaran 3 poin. Luar biasa! Keputusan krusial PSSI, dimana BFC merupakan tim yang sedang berjuang bersama 3 tim teratas lain yaitu Bali United FC, PSM Makassar san Madura United. Meski selisih 3 poin dan menyisakan 1 laga, puncak klasemen BFC tak akan bisa digoyah, karena BFC juga menang head-to-head dengan pesaing terdekatnya, Bali United, yang berada di posisi kedua.

Keputusan yang diambil PSSI untuk Bhayangkara sangatlah menuai kontroversi. Pengambilan keputusan memberikan kemenangan WO kepada BFC sangatlah merugikan tim Mitra Kukar. Memang setimpal, namun sisi keadilan dan kebijaksaan PSSI sangatlah kurang. Masih ada opsi lain yang lebih bijak dari keputusan itu. Andaikan Mitra Kukar diberikan pengurangan poin, meski Naga Mekes merasa rugi, bagi kontestan Liga 1 lainnya tentu akan beranggapan bahwa PSSI bijaksana dalam memberikan keputusan.

Kini, di detik-detik akhir liga, Bhayangkara FC telah berada di ambang juara. Tak ada yang menyalahkan, karena BFC memang tampil impresif, dengan memainkan kombinasi pemain senior dan pemain muda, nampaknya menjadi salah satu kunci sukses BFC. Tetapi luka yang secara tidak langsung diberikan PSSI tentu akan membawa dampak besar bagi pecinta sepakbola Indonesia. Riuhan 'RIP PSSI' mulai kembali mencuat. Hal ini memang akibat dari ketidakbijaksananya PSSI selaku induk sepakbola negeri ini. Kita hanya bisa menerima semua keputusan aneh ini, tentu dengan lapang dada dan bijaksana. Hanya doa dan kritikan yang bisa kita berikan. Karena sejatinya PSSI akan hebat ketika menerima kritikan, bukan menerima pujian.


Sumber berita:
https://sport.detik.com/sepakbola/liga-indonesia/d-3719322/sissoko-tinggalkan-mitra-kukar-pamit-ke-seluruh-warga-indonesia
http://www.viva.co.id/bola/liga-indonesia/975753-kata-pssi-soal-hukuman-mitra-kukar-saat-melawan-bhayangkara
Sumber meme:
IG @hafidz_fauzan87