Kamis, 10 Mei 2018

Persibara Banjarnegara, Tetangga Wonosobo yang Membuat Bangga

Gelaran Liga 3 zona Jawa Tengah dimulai pada hari Minggu, 25 Maret 2018. Pada fase ini berlangsung dengan sistem grup dengan pola kandang dan tandang. Harapan membumbung tinggi pada pundak punggawa tim-tim zona Jateng ini. Naik kasta sudah tidak bisa ditawar lagi.

Seiring bergulirnya liga, siapa sangka klub asal kota dawet ayu, Persibara Banjarnegara mampu lolos babak 8 besar Liga 3 Zona Jawa Tengah. Sejak digulirkannya nama Persibara Banjarnegara tahun 1989, memang nyaris tak ada prestasi yang berarti. Tetapi, penampilan rupawan Laskar Dipoyudo, julukan Persibara Banjarnegara di Liga 3 Zona Jateng 2018, mampu membuktikan bahwa di kandang maupun tandang, mereka bisa menaklukkan lawan. Bertengger di Grup 1 bersama Persekat Tegal, Persiku Kudus, Persipa Pati dan PSIK Klaten, Persibara mampu meraih 5 kemenangan, 2 hasil seri dan hanya 1 kali menelan kekalahan. Persibara mengantongi 17 poin dan berada di urutan kedua klasemen akhir penyisihan Grup 1 setelah Persekat Tegal dengan 18 poin. Hasil yang luar biasa bagi tim di wilayah Jawa Tengah, mengingat tetangga terdekatnya Laskar Kolodete, PSIW Wonosobo belum mampu berbuat banyak di kompetisi resmi.

Setelah lolos di fase 8 besar bersama Persekat Tegal di Grup 1, Persibara bertemu Bhayangkara Muda FC dari Grup 3. Pertandingan dilaksanakan 2 kali dengan sistem home-away. Persibara mendapat kehormatan menjadi tuan rumah di leg pertama, pertandingan digelar di Standion Soemantri Kolopaking, Kabupaten Banjarnegara. Hasilnya pun sangat membanggakan. Pertandingan pada Minggu, 6 Mei 2018 tersebut berakhir untuk kemenangan clean sheet Persibara atas Bhayangkara Muda 1-0. Selanjutnya leg kedua akan digelar di Stadion Citarum, Kota Semarang, markas Bhayangkara Muda FC.

Meski ada insiden memalukan yakni ketika di menit akhir pemain Bhayangkara Muda dengan brutal melakukan tackling amat keras pada salah satu pemain Persibara, dan berujung penghentian pertandingan oleh wasit karena beberapa pemain Bhayangkara Muda terlihat mengeroyok dan memukul wajah wasit yang memimpin pertandingan. Lagi-lagi insiden seperti ini sangatlah memalukan dan mencoreng nama baik persepakbolaan Indonesia. Tidak boleh terulang kembali hal-hal seperti ini. Sanksi tegas dari Komisi Disiplin PSSI layak untuk para pemain Bhayangkara Muda. Disamping hal tersebut, Persibara tetap unggul 1-0 atas Bhayangkara Muda.

Meski pada leg kedua ini Persibara telah mengantongi 1 gol, namun Laskar Dipoyudo masih belum aman posisinya karena semua masih bisa terjadi. Tetapi mental pemain Persibara sepertinya lebih kuat, pada leg kedua yang digelar Rabu, 9 Mei 2018 mereka kalah 2-1 atas tuan rumah dan lolos ke semifinal Zona Jateng dengan agregat 2-2, Persibara unggul gol tandang. Di semifinal, Persibara akan bertemu Persab Brebes, laga leg pertama akan digelar Minggu, 8 Juli 2018 dengan Persibara sebagai tuan rumah. Sedang leg kedua Minggu, 15 Juli 2018 di Stadion Karangbirahi, markas Persab Brebes.

Kiprah Persibara Banjarnegara di Liga 3 musim ini memang membanggakan. Mampu lolos semifinal Liga 3 Zona Jateng bukanlah hal yang mudah. Perjalanan panjang, diiringi latihan serta disiplin yang tinggi, belum tentu sebuah klub bisa melangkah sejauh ini. Mentalitas bertanding menjadi hal yang fundamental dalam sebuah pertandingan. Ditambah dengan dukungan loyal Bara Mania, suporter Persibara, Askab PSSI setempat, serta sponsor tentunya, menjadi modal yang cukup untuk Persibara melangkah jauh di persepakbolaan nasional. Semoga Persibara bisa membuat lebih banyak kejutan di laga-laga selanjutnya.

Tidakkah sepakbola Wonosobo melihat, meniru semangat Persebara, yang meskipun secara letak geografis Banjarnegara tidak beda jauh dengan Wonosobo karena hanya berdampingan, bisa membawa mimpi menuju tangga atas persepakbolaan nasional. Di tambah lagi Persibara Banjarnegara akan melakoni laga di Piala Indonesia 2018 melawan Gajah Mada FC di Zona 8 Piala Indonesia. Layak dibanggakan tetangga dekat PSIW Wonosobo ini. Semoga Persibara mampu untuk membuktikan prestasinya di pentas sepakbolah nasional, dan mampu memberikan semangat perjuangan dibidang sepakbola untuk tetangga-tetangganya, terlebih lagi untuk PSIW Wonosobo.

Sumber berita:
https://www.topskor.id/detail/70318/Ini-Hasil-Pembagian-Grup-Liga-3-Zona-Jateng
https://kampiun.id/nasional/04/berikut-klasemen-akhir-babak-penyisihan-liga-3-jateng-2018/

Sumber gambar:
Twitter @JerseyLigina

Rabu, 08 November 2017

Drama di Akhir Liga

Sejak peluit pertama kick-off Liga 1 pada 17 April 2017, seluruh kontestan liga langsung tancap gas. Persipura yang keluar sebagai juara Torabika Soccer Championship A 2016 lalu, tentu tak ingin melewatkan mahkota Liga 1 yang sudah cukup lama dinanti masyarakat sepakbola Indonesia. Namun sayang, hingga pekan 33 Persipura hanya menang 17 kali, imbang 8 kali, dan kalah 8 kali. Tim Mutiara Hitam pun harus puas menghuni posisi 5 klasemen Liga 1 sementara.

Tak ada yang tak mungkin di Indonesia. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman, kalau kata grup band legendaris Koes Plus. Masyarakat yang masih percaya akan kekuatan magis, percaya akan tahayul, dan masih banyak lagi, itulah yang mewarnai Indonesia. Tak terkecuali di sepakbola. Sejak hal-hal ghaib dalam tubuh PSSI mulai tumbuh, banyak keanehan terjadi. Mulai dari sepakbola gajah, pengaturan skor, intervensi wasit, hingga pemilihan ketua umum yang sarat politik. Namun sekarang mari kita lupakan cacat yang melukai sepakbola kita itu. Saatnya menatap masa depan sepakbola yang cerah. Disambut dengan juaranya Evan Dimas dkk di AFF U19 tahun 2013, kita semakin optimis bahwa sepakbola Indonesia di masa mendatang akan lebih gemilang.

Liga Baru, Semangat Baru. Memang Indonesia ini negeri slogan. Itulah slogan baru dari Gojek Traveloka Liga 1 yang semula bernama ISL (Indonesia Super League). Tak hanya sekedar slogan, Liga Baru Semangat Baru diharapkan mampu diilhami seluruh stakeholder klub di Liga 1. Harapan dan impian pun membumbung tinggi. Semua ingin juarai kompetisi. Regulasi pun dibuat dengan maksud meningkatkan kualitas. Hanya saja, di negara ajaib ini, regulasi bukanlah regulasi sebagaimana mestinya. Ia bisa berubah di tengah bergulirnya kompetisi. Sakti! Entah siapa dukunnya, perubahan regulasi saat liga telah bergulir cukup mencolok mata pecinta sepakbola. Tengok saja ketika PSSI menghapus regulasi penggunaan pemain u23 hingga akhir kompetisi. Menurut Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria, kesempatan pemain muda di kompetisi Liga 1 2017 masih terbuka walau regulasi pemain U-23 dihapuskan sementara. Lagi-lagi kita hanya bisa menerima hal yang magis ini. Ada klub yang dirugikan, ada pula yang diuntungkan. Klub dengan rata-rata pemain matang dan cukup memberi perubahan pada permainan tentu akan memainkan pemain tersebut secara maksimal. Prestasi klub kemudian akan menjadi output dari kebijakan klub ini. Inilah yang menjadi kunci empat klub teratas Liga 1 musim ini.

Gojek Traveloga Liga 1 2017 ini memang penuh kejutan. Mulai dari tim-tim yang 'mengejutkan', regulasi yang absurd, hingga juara kompetisi yang secara mengejutkan, Bhayangkara FC! Memang Bhayangkara FC di awal musim tidak terlalu di unggulkan. Bahkan hanya menargetkan peringkat 10 besar. Namun komposisi pemain yang berkualitas, serta permainan yang solid menjadi kunci setiap kemenangan Bhayangkara FC. Hingga menyisakan 1 laga, BFC telah mengantongi 68 poin dan berada di puncak klasemen, hanya selisih 3 poin dari peringkat kedua yakni Bali United FC. Ada yang unik dari poin Bhayangkara FC ini. PSSI memutuskan untuk membatalkan hasil pertandingan Bhayangkara FC vs Mitra Kukar dengan hasil draw 1-1 pada pekan ke 32, Jumat, 3 November 2017. Hasil pertandingan itu dibatalkan akibat Mitra Kukar memainkan Mohamed Sissoko yang pada laga sebelumnya ia telah menerima kartu merah. Mantan pemain Liverpool dan Juventus itu juga mendapat sanksi larangan bermain di dua laga, yakni termasuk Bhayangkara dan Persiba Balikpapan pada 11 November mendatang. Namun di laga vs Bhayangkara, nama Sissoko tak masuk dalam Nota Larangan Bertanding (NLB) yang ditertibkan operator.

Dibatalkannya laga antara BFC dengan tim Naga Mekes oleh Komdis PSSI memberikan kemenangan WO (3-0) kepada BFC. Artinya Bhayangkara FC secara otomatis mendapatkan ganjaran 3 poin. Luar biasa! Keputusan krusial PSSI, dimana BFC merupakan tim yang sedang berjuang bersama 3 tim teratas lain yaitu Bali United FC, PSM Makassar san Madura United. Meski selisih 3 poin dan menyisakan 1 laga, puncak klasemen BFC tak akan bisa digoyah, karena BFC juga menang head-to-head dengan pesaing terdekatnya, Bali United, yang berada di posisi kedua.

Keputusan yang diambil PSSI untuk Bhayangkara sangatlah menuai kontroversi. Pengambilan keputusan memberikan kemenangan WO kepada BFC sangatlah merugikan tim Mitra Kukar. Memang setimpal, namun sisi keadilan dan kebijaksaan PSSI sangatlah kurang. Masih ada opsi lain yang lebih bijak dari keputusan itu. Andaikan Mitra Kukar diberikan pengurangan poin, meski Naga Mekes merasa rugi, bagi kontestan Liga 1 lainnya tentu akan beranggapan bahwa PSSI bijaksana dalam memberikan keputusan.

Kini, di detik-detik akhir liga, Bhayangkara FC telah berada di ambang juara. Tak ada yang menyalahkan, karena BFC memang tampil impresif, dengan memainkan kombinasi pemain senior dan pemain muda, nampaknya menjadi salah satu kunci sukses BFC. Tetapi luka yang secara tidak langsung diberikan PSSI tentu akan membawa dampak besar bagi pecinta sepakbola Indonesia. Riuhan 'RIP PSSI' mulai kembali mencuat. Hal ini memang akibat dari ketidakbijaksananya PSSI selaku induk sepakbola negeri ini. Kita hanya bisa menerima semua keputusan aneh ini, tentu dengan lapang dada dan bijaksana. Hanya doa dan kritikan yang bisa kita berikan. Karena sejatinya PSSI akan hebat ketika menerima kritikan, bukan menerima pujian.


Sumber berita:
https://sport.detik.com/sepakbola/liga-indonesia/d-3719322/sissoko-tinggalkan-mitra-kukar-pamit-ke-seluruh-warga-indonesia
http://www.viva.co.id/bola/liga-indonesia/975753-kata-pssi-soal-hukuman-mitra-kukar-saat-melawan-bhayangkara
Sumber meme:
IG @hafidz_fauzan87

Selasa, 12 September 2017

Urgensi Pembangunan Stadion di Wonosobo

Indonesia pernah mengajukan diri untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebenarnya bisa, tapi jika kita melihat infrastruktur yang ada itu belum cukup mumpuni. Di kota-kota besar sudah berdiri megah stadion dengan kapasitas diatas 25.000 penonton. Akan tetapi, membicarakan Piala Dunia dan stadion saja masih belum cukup. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, mulai dari akses, infrastruktur pendukung di lingkungan stadion, hingga penginapan atau hotel dan masih banyak lagi tentunya. Kemudian bagaimana dengan Piala Dunia 2022 yang diajukan Indonesia tadi? Cukup dijawab dalam hati saja.

Membicarakan sepakbola, animo masyarakat Indonesia memang menggairahkan. Sepakbola bisa mendatangkan puluhan ribu massa hanya dalam waktu sebentar saja. Dimana lagi puluhan ribu orang berfikir untuk bergerak dan bersatu dalam satu garis suporter? Hanya di sepakbola!
Jika kita melihat gairah sepakbola di Jawa Tengah, peta persebaran tim sepakbola cukup kompetitif. Mulai dari PSCS Cilacap, Persibangga Purbalingga, Persibat Batang, PSIS Semarang, PPSM Magelang, Persis Solo dan masih banyak lagi. Masing-masing wilayah kabupaten memiliki basis suporter loyal yang siap mengawal tim kebanggaannya dimanapun berlaga. Namun, bagaimana dengan Kabupaten Wonosobo? Wonosobo memang memiliki klub sepakbola dibawah kepemilikan Pemkab Wonosobo bernama PSIW Wonosobo. Berstadion di Stadion Kalianget dengan kapasitas 1000 orang, PSIW Wonosobo berlaga di Liga Nusantara (sekarang Liga 3). Itu versi wikipedia. Kalau anda berkenan melihat langsung di Wonosobo, tentu akan berbeda. Tak ada aktivitas sepakbola PSIW Wonosobo untuk saat ini. Terbukti saat kita lihat melalui akun Instagram @psiwofficial bahwa terakhir PSIW berlaga adalah di Piala Soeratin U-17 tahun 2017, dimana PSIW junior mengakhiri kompetisi tanpa kemenangan. Akun Instagram resmi PSIW tersebut sampai tulisan ini dibuat belum ada postingan lagi, terakhir adalah postingan tanggal 18 April 2017 mengenai Match Day ke-7 antara PSIW junior vs Persibas Banyumas junior di "Stadion" Kali Anget.

Stadion? Ekspektasi kita terhadap sebuah stadion tentu besar. Besar bangunannya, besar kapasitasnya, dan sebagainya. Namun Stadion Kali Anget yang dimaksud tadi diatas belum mencapai ekspektasi kita. Di Stadion Kali Anget, Lapangan Kali Anget tepatnya, hanya terdapat lintasan atletik, tanpa tribun, dan masih jauh untuk dikatakan sebuah stadion. Disamping itu, inilah lapangan satu-satunya harapan warga Wonosobo untuk menyelenggarakan kompetisi sepakbola, khususnya PSIW.

Berada tidak jauh dari pusat kota Wonosobo, Lapangan Kali Anget sering digunakan untuk olahraga masyarakat Wonosobo, mulai dari lari maupun sepakbola. Sebelum masuk Lapangan Kali Anget kita juga bisa menikmati olahraga air, karena terdapat kolam renang yang cukup besar dan di sebelahnya ada kolam air panas. Tetapi kita tidak akan membahas itu. Pembangunan stadion akhir-akhir ini mulai diharapkan masyarakat Wonosobo. Banyak beredar foto spanduk bertuliskan "Wonosobo Butuh Stadion" di media sosial. Ini memang bentuk kekecewaan masyarakat sepakbola khususnya di Wonosobo karena ketidakadanya stadion yang mumpuni di kota dingin ini.

Stadion sepakbola memang penting, disamping dapat menyelenggarakan berbagai event mulai dari sepakbola hingga konser dan pengajian, stadion dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Tentu akan ada banyak penjual atribut klub sepakbola disekitar stadion, pedagang makanan dan minuman, petugas parkir, dan jangan heran lagi kalau ada calo tiket. Disamping itu, stadion juga dapat menjadi arena pemersatu masyarakat, karena hakikatnya didalam pertandingan sepakbola di sebuah stadion, hanya akan ada pendukung tim tamu dan tim tuan rumah. Semua bersaudara. Tuan rumah akan dengan senang hati menyambut tamunya. Sang tamu pasti akan menghormati sikap tuan rumahnya. Namun di Indonesia, hal yang mulia ini masih terbilang "mahal".

Kadang, berbicara mengenai sepakbola tak jauh dari kekerasan. Sudah banyak terjadi di Indonesia. Yang terbaru adalah ketika Arema FC bertandang ke kandang Madura United (10/9) dimana bus dari tim berjuluk Singo Edan itu dilempari batu oleh oknum suporter Madura United yang sebagian memang pendukung Bonekmania, rival bebuyutan Aremania. Kemudian bagaimana dengan kekerasan di Wonosobo? Apa sudah cukup kondusif? Kabupaten Wonosobo terkenal akan wisatanya, kotanya yang sejuk memang menarik banyak wisatawan untuk berkunjung. Wonosobo juga terkenal akan warganya yang ramah. Trend kekerasan pun mulai menurun di kota Carica ini.

Anggaran pembangunan stadion mungkin menjadi hal yang sulit dilakukan pemerintah Kabupaten Wonosobo. Meski sudah banyak aspirasi yang dilakukan melalui berbagai cara untuk segera membangun stadion, Pemkab Wonosobo sepertinya belum ada tanggapan yang serius. Atau mungkin pihak berwenang di Wonosobo berpikiran bahwa pembangunan stadion sepakbola belum menjadi suatu urgensi yang akan memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat Wonosobo. Kita hanya bisa berharap dan berdoa yang terbaik untuk kemajuan Wonosobo, khususnya bidang sepakbola.


(Mengenai kelanjutan eksistensi Laskar Kolodete ini, penulis sedang bertanya kepada pihak PSIW melalui email psiwofficial@gmail.com pada 13 September 2017).
Sumber berita:
http://m.bola.com/indonesia/read/3089545/pulang-dari-markas-madura-united-bus-arema-dilempari-batu
http://tribratanewswonosobo.com/wonosobo-semakin-aman-angka-kejahatan-terus-mengalami-trend-penurunan-dalam-5-tahun-terakhir/
https://id.wikipedia.org/wiki/PSIW_Wonosobo
Terinspirasi dari buku Antony Sutton, Sepakbola, The Indonesian Way of Life.



Selasa, 06 Juni 2017

Download Framework Agreement ACFTA

Link berikut akan membawa anda pada sebuah file pdf di google drive. File tersebut bukan hasil karya saya. Saya mendapatkan dari hasil pencarian di website.

https://drive.google.com/file/d/0B5__w9rNG_IsZWEyMTZrNHEzSGs/view

Semoga membatu.

Rabu, 10 Mei 2017

Tim Kampusku di Liga 3

Sore itu sepulang kuliah, cuaca khas Jogja yang panas, harus saya tembus untuk pulang ke kontrakan. Sudah tidak ada kegiatan sore itu. Saya putuskan menunggu laga Persela kontra Persija live di TvOne. Memang saya bukan supporter kedua tim, tapi dibanding tim lain di Liga 1 memang Persija yang menarik untuk saya tonton. Salah satu alasannya adalah BP20.

Oke laga dimulai. Haus gol men Persija! Sudah dua kali kalah beruntun, tim asuhan coach Stefano Cugurra itu justru kebobolan di menit 31 oleh sundulan keras striker Persela, Ivan Carlos. "Calon kalah lagi nih persija", batin saya berbisik. Sekitar menit 40 saya memutuskan berhenti menonton tv. "Clep", televisi mati.

Bukan tanpa alasan saya berhenti menonton laga itu, bukan karena bosan juga Persija masih tertinggal. Saya ingat hari ini kampus saya bertanding di Liga 3 zona Yogyakarta. Tidak banyak mahasiswa seperti saya yang kampusnya berlaga di Liga 3 Indonesia, liga sepakbola terbawah di Indonesia yang dikelola Badan Liga Amatir Indonesia (wikipedia.org).

Tercatat ada 4 tim sepakbola berbasis universitas di Liga 3 zona Yogyakarta. Diantaranya ada UAD FC (UAD), FC UNY (UNY), GAMA FC (UGM), dan PS HW (UMY). Menurut saya, fenomena ini patut dibanggakan. Karena pasti keempat tim tersebut tidak hanya menjadi peserta, tapi pasti punya target yang tinggi. Hal ini akan memberikan bumbu yang lebih pada atmosfir kompetisinya.

Oh iya saya pun pergi ke Lapangan Gamelan, Berbah, untuk menyaksikan UAD FC vs Tunas Jogja. Mungkin sampai disana kedua tim sudah mulai bertanding. Tapi, kenyataan disana jauh diluar dugaan. Bukannya ramai penonton, yang ada hanya sapi yang sedang dilepas dilapangan dan beberapa anak-anak yang bermain disekitarnya. "Waduh lha terus ini UAD main dimana", dalam hati saya bingung. Saya memang mendapat info tempat bergulirnya laga ini dari akun twitter @SuporterFC, tapi mungkin mas admin keliru memberikan infonya, hehe tak apa.

Tidak menyerah, saya mencari tahu dari teman-teman UAD FC. Sayangnya mereka tak ada yang membalas. Lagi-lagi saya ceroboh kalau mereka itu pemain yang sudah pasti berada dilapangan atau dibangku cadangan, tidak mungkin memegang hp, hahaha.

Sebentar saja info lapangan saya dapat. Lapangan Potorono. Sekitar 5 menit dari Lapangan Gamelan. Cusss saya meluncur dengan motor Supra tempur saya.
Sampai disana, peluit babak kedua baru dibunyikan. Semua gawang masih perawan. Belum ada gol tercipta. Oranye, jersey kebanggaan UAD, dan biru, jersey Tunas Jogja. Bola mondar-mandir kesana-kemari. Teriakkan pemain pun bisa terdengar sampai pinggir lapangan.

Gol yang dinanti penonton pun pecah juga. Miss komunikasi antara kiper dan bek UAD FC membuahkan gol untuk Tunas Jaya, 0-1 Dahlan Muda, julukan punggawa UAD tertinggal. Tampak wajah lesu dan putus asa di beberapa punggawa UAD FC. Permainan menjadi agak buyar. Tambahan waktu 3 menit.

Dengan sisa semangat dan stamina yang sudah diujung tanduk, UAD FC mencetak gol penyeimbang di menit tua itu. 1-1 papan skor berubah. Sorak-sorai penonton tumpah seketika. Saya tak mau kalah ikut berdiri dan memberikan applause pada mereka. Meski setelah gol itu sempat diwarnai kartu kuning yang diberikan langsung kepada sang pencetak gol, Fajar, sepertinya tak menimbulkan respon berarti pada semua yang merayakan golnya. Fajar yang masih telanjang dada nyengir tertawa dan menyalami pak wasit yang telah menghukumnya. Pemandangan yang langka. Gelak tawa tak terelakkan dari sebagian penonton disana, tak terkecuali saya. Peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan pun dibunyikan.

Kurang memuaskan memang pertandingan itu, karena saya yang datang terlambat, hehe. UAD FC dan Tunas Jaya berbagi poin. Namun perjalanan masih panjang. Masih banyak poin yang siap untuk dikantongi. Asal tim mampu bermain dengan total, berjuang sepenuhnya, tentunya dengan menjujung tinggi sportifitas, kemenangan sudah pasti akan lebih mudah untuk diraih.

Bagi saya dan rekan-rekan dikampus, UAD FC merupakan salah satu hal yang bisa dibanggakan. Inilah mungkin yang bakal menjadi semangat punggawa UAD FC berlaga di Liga 3. Kebanggaan merupakan dukungan spiritual bagi para pemain. Tak terkecuali bagi staf pelatih dan jajaran official lainnya.

Semoga UAD FC mampu berbicara banyak di pertandingan-pertandingan yang dilakoninya. Seperti tahun kemarin, UAD FC mampu menembus final Linus 2016 melawan GAMA FC, namun kalah 2-1.
Jayalah sepakbolaku!

Amin Hartoni - @albrightonne

Kamis, 04 Mei 2017

Bangkitlah Sepakbolaku!

Sudah lama menanti dahaga bergulirnya liga. Mungkin ini yang banyak menggrundhel di hati masyarakat pecinta sepakbola nusantara. Setelah lama dibekukan FIFA, cerita sepakbola Indonesia pun kembali mulai. Bermodal persiapan matang dan segenap regulasi yang dibumbui isu sedikit merugikan, tim-tim dari seluruh nusantara antusias dengan bergulirnya liga.

Saya yang dari kecil hidup di kota dingin Wonosobo, Jawa Tengah, belum pernah merasakan kebersamaan mendukung tim kota kebanggaan. Ya memang tim sepakbola Wonosobo tidak semaju di kabupaten atau kota lain. Sudah lama saya ingin menonton tim lokal dimana saya tinggal, Yogyakarta. Ada tiga tim yang cukup dikenal masyarakat, Psim Yogyakarta, Persiba Bantul dan PSS Sleman. Tiga tim besar yang ada di wilayah Yogyakarta.
Kali ini saya akan bercerita sedikit pengalaman saya menonton laga Psim vs Persinga Ngawi. Sudah lama saya penasaran dengan atmosfir liga. Biasanya saya cuma menonton di layar televisi sih. Itu saja sudah cukup puas, dengan pertandingan yang cukup menghibur, penonton yang menggelora serta intrik sepakbola khas Indonesia yang terjadi dilapangan, membuat rasa penasaran saya untuk menonton langsung pun memuncak.

Sehari sebelum laga Psim, saya dihubungi teman kampus saya, Ilham Wiguna, dia mengajak menonton di Stadion Sultan Agung, laga Psim vs Persinga Ngawi. "Oke siap", jawab saya ketika diajak, tanpa pikir panjang haha.

Kamis 4 Mei, sekitar pukul 12:00, Ilham seperti sudah tidak sabar untuk meluncur ke stadion. Dia berseragam Psim, sementara saya yang bukan pendukung kedua tim, memilih memakai jersey timnas Indonesa hehe.

Oke kami pun sampai di stadion, dan WOW, sambutan hangat supporter Psim sepanjang jalan, dan juga di area stadion, benar-benar membius saya. Ribuan supporter tumpah ruah. Biru-biru. Warna kebanggaan Psim. Segera kami membeli tiket, tribun ekonomi utara seharga Rp 20.000 (maklum laa kami anak kos heheh). Kami berdua duduk sejenak di dekat loket tiket. Saya sempat ngobrol dengan Polisi yang berjaga disana. "Tidak lebih dari 200 kok mas penjagaannya, ini laga damai, santai saja pasti aman", ujar Pak Polisi yang berpakaian lengkap anti huru-hara itu.

Semakin yakin dengan 'keamanan' di laga ini, kami pun masuk ke tribun. Maklum, belum lama ini sempat ada insiden tawuran antar pendukung Psim. Jadi kami sempat ketar-ketir saat masuk stadion.

Laga Psim vs Persinga Ngawi pun dimulai. Gemuruh stadion yang penuh oleh pendukung Psim membuat pemain Psim semangat memainkan si kulit bundar. Kami semakin antusias menonton laga itu. Dan gol yang ditunggu pun datang dari Psim. Di menit 29, Engkus Kuswaha menyambut umpan matang dari tendangan bebas sisi kiri gawang, dengan kepalanya dan GOL, begitu yang tertera di layar papan skor, Psim unggul 1-0 atas Persinga Ngawi. Hingga turun minum, skor tetap 1-0.
Meski istirahat babak pertama, supporter Psim tetap menggema menyuarakan chant khasnya. Gemuruh seluruh stadion membuat siapapun di sana bergetar hatinya. Ternyata seperti ini sepakbola kita. Benar-benar menyatukan semua lapisan masyarakat, tua muda, pria wanita, petani hingga TNI Polri, semua yang ada di stadion bisa damai, tenang dan aman terkendali.

Tidak lama, babak kedua dimulai. Sempat berhenti sejenak karena ada kertas-kertas gulungan yang dilempar ke arah lapangan, hingga mungkin mengganggu kedua tim dalam berlaga dilapangan. Yang menarik, beberapa pemain kedua tim saling membatu menyingkirkan tisu gulungan tadi keluar lapangan, luar biasa rasa kebersamaan antara mereka.

Alih-alih menyamakan keadaan, Persinga justru kembali kebolan. Gol heading Krisna Adi di menit 72 membuat Psim unggul 2-0 hingga babak kedua usai. Tiga poin untuk tim kebanggaan wong Jogja itu.

90 menit yang luar biasa, saya puas, terhibur dengan apa yang saya tonton. Permainan yang cukup menarik dibandingkan dengan tim lain yang kemarin saya tonton, serta atmosfir yang tersaji di stadion, membuat saya tidak ragu memberikan standing applause kepada Psim. Well done Psim. Ternyata kalian keren juga. Itu yang saya katakan dalam hati. Benar-benar atmosfir sepakbola yang jarang saya temukan, selain saat laga timnas.

Bagi saya, banyak hal menarik selama pertandingan. Kekompakan supporter Psim meneriakkan chant salah satunya, tentu dengan bumbu sindiran kepada tim-tim rival utamanya. Itu biasa terjadi di Indonesia. Buat supporter netral seperti saya, gaya supporter Psim pasti membuat kangen ingin kembali menonton langsung di stadion. Suasana hangat kebersamaan juga sangat terasa. Psim sudah menjadikan mereka semua (supporter) bersatu layaknya keluarga.
Inilah yang diharapkan seluruh pecinta sepakbola. Sepakbola yang menyatukan, yang meleburkan seluruh masyarakat yang mendukungnya. Salut. Semoga tetap indah dan damai seperti ini selamanya.

Saya berharap sepakbola Indonesia bangkit, maju, berkembang dan berkualitas, bukan hanya olahraga sepakbola yang menyehatkan, namun juga dapat memberikan tontonan yang berkualitas pada masyarakat.
Jayalah sepakbola Indonesia!
Amin Hartoni @albrightonne

Minggu, 30 April 2017

Kecintaan Pada Negeri, Pak Dahlan Iskan Di balas Vonis 2 Tahun

Pak Dahlan Iskan divonis 2 tahun. Dua tahun untuk semua yang dilakukannya bagi negeri ini.
Negara ini tak pernah memberi apa-apa kepada Dahlan Iskan. Dia tidak seperti banyak anak bangsa yg disekolahkan dan mendapat beasiswa ke luar negeri dan pulang-pulang mengantre kemapanan, alih-alih membangun negeri.

Dia terlahir dengan kemiskinan ekstrem. Kondisi yang siapapun bisa memikirkan bahwa pendidikan adalah kemewahan dan bukanlah hak asasi warga negara. 
Tapi, dia bisa bangkit tanpa terjebak melankolia menjadi orang susah, memperjuangkan pendidikan, melihat sesuatu dari sudut yang semata-mata positif, mempelajari apa saja dengan riang gembira.

Dahlan Iskan yg saya suka adalah manusia pembelajar. Dia suka belajar apa saja dan mengekspos dirinya sendiri ke macam-macam tantangan. Manusia tipe A yang tidak setiap saat bisa kamu temui dalam zamanmu. Dia adalah mesin pompa harapan. Mata air inspirasi yang tidak pernah kering. Dia memiliki kualitas yang langka: mengubah besi menjadi emas.

Saat terbaring di sebuah rumah sakit di Tiongkok karena sakit parah yg dideritanya, dia mengubah brankarnya menjadi kursi belajar, yg dari sana dia bisa mendatangkan guru bahasa. Dia mungkin menteri dalam cabinet pemerintahan lalu dan bakal calon presiden yang tamatan Aliyah yang menguasai banyak bahasa dunia: Arab, Inggris, Tiongkok…

Sepulangnya dari negeri itu, dia mendapatkan kehidupan keduanya yang memberinya kekuatan dan pencerahan bahwa hidupharuslah bermanfaat untuk bangsa dan negara. Saat dia diminta untuk mengabdi, dia menyanggupinya dengan kepatuhan dan kekuatan nyaris seperti kuda pacu. Dia bekerja hingga larut malam dan memulai hari lebih pagi dari pejabat manapun di republik ini. Dia mengejar pesawat siang, sore dan malam untuk bisa hadir ke tempat –tempat tugasnya, berjalan kaki menembus hutan-hutan di Papua, berjalan kaki di Havana Bima, mendaki gunung-gunung di Sumatera dan Jawa, menginap di mana saja dia bisa diterima, memuji apapun makanan tuan rumah yang dihidangkan untuknya, tidur di tempat manapun dia bisa tertidur.

Dia merintis mobil listrik. Membiayai dari kantongnya sendiri. Menggaji para pembuatnya dari gaji menterinya. Dia melakukan pengujian sendiri, yang membuat nyawanya nyaris melayang, tapa membuatnya kapok untuk melakukanya lagi karena menurutnya inilah teknologi mobil di masa depan yang harus dimiliki Indonesia.
Demi Indonesia. Semuanya dilakukannya demi negerinya.
Tapi semua itu sia-sia. Cinta Dahlan Iskan kepada negaranya adalah cinta, yang bukan saja bertepuk sebelah tangan, tetapi berbalas tangan hukum. Dia diperkarakan, para enginer mobil listriknya ditangkap, kelak, bertahun-tahun kemudian apa yang dikatakannya benar. Thailand kini telah menasbihkan diri sebagai pusat pengembangan mobil listrik di Asia Tenggara.

Adapun Dahlan Iskan seperti dijebloskan ke dalam sebuah taman permainan hukum yang tidak pernah ada akhirnya. Selesai mobil, dia dijegal dengan pembangkit listrik, di sana sudah menunggu kasus sawah fiktif, sebelum itu, dia harus melewati terowongan kasus-kasus di kotanya: Pelepasan aset PT PWU perusahaan BUMD Pemprov Jatim, dll. Tak penting apapun kasusnya, asalkan bisa menjeratnya. Asalkan bisa membuat dia tidak aktif hingga Pilpres 2019 mendatang.
Kemarin,  dia divonis 2 tahun penjara. Untuk kasus yang setiap orang Indonesia, asalkan balig dan berakal, tahu bahwa itu semata-mata penjegalan.

Melihat Pak Dahlan duduk dengan di kursi pesakitan dan mendengarkan vonis yang dijatuhkan kepadanya membuat saya memikirkan nasib setiap orang yang tulus di negeri ini. Dua tahun vonis. Setelah semua yang dilakukannya bagi negara ini, setelah semua iktikad baik, perjuangan, ketahanan untuk selalu berpihak kepada orang banyak dan kesepian pengorbanan, setelah semua tetes keringat, harta, curah pikiran dan nyawa, yang sedianya setahu saya bisa diberikannya kapan saja negeri ini meminta;. negaranya akhirnya memberinya imbalan berupa penderitaan di hari tuanya.

Sumber : Randu, Radar Banjarmasin