Kamis, 04 Mei 2017

Bangkitlah Sepakbolaku!

Sudah lama menanti dahaga bergulirnya liga. Mungkin ini yang banyak menggrundhel di hati masyarakat pecinta sepakbola nusantara. Setelah lama dibekukan FIFA, cerita sepakbola Indonesia pun kembali mulai. Bermodal persiapan matang dan segenap regulasi yang dibumbui isu sedikit merugikan, tim-tim dari seluruh nusantara antusias dengan bergulirnya liga.

Saya yang dari kecil hidup di kota dingin Wonosobo, Jawa Tengah, belum pernah merasakan kebersamaan mendukung tim kota kebanggaan. Ya memang tim sepakbola Wonosobo tidak semaju di kabupaten atau kota lain. Sudah lama saya ingin menonton tim lokal dimana saya tinggal, Yogyakarta. Ada tiga tim yang cukup dikenal masyarakat, Psim Yogyakarta, Persiba Bantul dan PSS Sleman. Tiga tim besar yang ada di wilayah Yogyakarta.
Kali ini saya akan bercerita sedikit pengalaman saya menonton laga Psim vs Persinga Ngawi. Sudah lama saya penasaran dengan atmosfir liga. Biasanya saya cuma menonton di layar televisi sih. Itu saja sudah cukup puas, dengan pertandingan yang cukup menghibur, penonton yang menggelora serta intrik sepakbola khas Indonesia yang terjadi dilapangan, membuat rasa penasaran saya untuk menonton langsung pun memuncak.

Sehari sebelum laga Psim, saya dihubungi teman kampus saya, Ilham Wiguna, dia mengajak menonton di Stadion Sultan Agung, laga Psim vs Persinga Ngawi. "Oke siap", jawab saya ketika diajak, tanpa pikir panjang haha.

Kamis 4 Mei, sekitar pukul 12:00, Ilham seperti sudah tidak sabar untuk meluncur ke stadion. Dia berseragam Psim, sementara saya yang bukan pendukung kedua tim, memilih memakai jersey timnas Indonesa hehe.

Oke kami pun sampai di stadion, dan WOW, sambutan hangat supporter Psim sepanjang jalan, dan juga di area stadion, benar-benar membius saya. Ribuan supporter tumpah ruah. Biru-biru. Warna kebanggaan Psim. Segera kami membeli tiket, tribun ekonomi utara seharga Rp 20.000 (maklum laa kami anak kos heheh). Kami berdua duduk sejenak di dekat loket tiket. Saya sempat ngobrol dengan Polisi yang berjaga disana. "Tidak lebih dari 200 kok mas penjagaannya, ini laga damai, santai saja pasti aman", ujar Pak Polisi yang berpakaian lengkap anti huru-hara itu.

Semakin yakin dengan 'keamanan' di laga ini, kami pun masuk ke tribun. Maklum, belum lama ini sempat ada insiden tawuran antar pendukung Psim. Jadi kami sempat ketar-ketir saat masuk stadion.

Laga Psim vs Persinga Ngawi pun dimulai. Gemuruh stadion yang penuh oleh pendukung Psim membuat pemain Psim semangat memainkan si kulit bundar. Kami semakin antusias menonton laga itu. Dan gol yang ditunggu pun datang dari Psim. Di menit 29, Engkus Kuswaha menyambut umpan matang dari tendangan bebas sisi kiri gawang, dengan kepalanya dan GOL, begitu yang tertera di layar papan skor, Psim unggul 1-0 atas Persinga Ngawi. Hingga turun minum, skor tetap 1-0.
Meski istirahat babak pertama, supporter Psim tetap menggema menyuarakan chant khasnya. Gemuruh seluruh stadion membuat siapapun di sana bergetar hatinya. Ternyata seperti ini sepakbola kita. Benar-benar menyatukan semua lapisan masyarakat, tua muda, pria wanita, petani hingga TNI Polri, semua yang ada di stadion bisa damai, tenang dan aman terkendali.

Tidak lama, babak kedua dimulai. Sempat berhenti sejenak karena ada kertas-kertas gulungan yang dilempar ke arah lapangan, hingga mungkin mengganggu kedua tim dalam berlaga dilapangan. Yang menarik, beberapa pemain kedua tim saling membatu menyingkirkan tisu gulungan tadi keluar lapangan, luar biasa rasa kebersamaan antara mereka.

Alih-alih menyamakan keadaan, Persinga justru kembali kebolan. Gol heading Krisna Adi di menit 72 membuat Psim unggul 2-0 hingga babak kedua usai. Tiga poin untuk tim kebanggaan wong Jogja itu.

90 menit yang luar biasa, saya puas, terhibur dengan apa yang saya tonton. Permainan yang cukup menarik dibandingkan dengan tim lain yang kemarin saya tonton, serta atmosfir yang tersaji di stadion, membuat saya tidak ragu memberikan standing applause kepada Psim. Well done Psim. Ternyata kalian keren juga. Itu yang saya katakan dalam hati. Benar-benar atmosfir sepakbola yang jarang saya temukan, selain saat laga timnas.

Bagi saya, banyak hal menarik selama pertandingan. Kekompakan supporter Psim meneriakkan chant salah satunya, tentu dengan bumbu sindiran kepada tim-tim rival utamanya. Itu biasa terjadi di Indonesia. Buat supporter netral seperti saya, gaya supporter Psim pasti membuat kangen ingin kembali menonton langsung di stadion. Suasana hangat kebersamaan juga sangat terasa. Psim sudah menjadikan mereka semua (supporter) bersatu layaknya keluarga.
Inilah yang diharapkan seluruh pecinta sepakbola. Sepakbola yang menyatukan, yang meleburkan seluruh masyarakat yang mendukungnya. Salut. Semoga tetap indah dan damai seperti ini selamanya.

Saya berharap sepakbola Indonesia bangkit, maju, berkembang dan berkualitas, bukan hanya olahraga sepakbola yang menyehatkan, namun juga dapat memberikan tontonan yang berkualitas pada masyarakat.
Jayalah sepakbola Indonesia!
Amin Hartoni @albrightonne

Tidak ada komentar:

Posting Komentar